Artikel Pikiran Rakyat édisi 5 Séptémber 2005
Ku YAYAT HENDAYANA
Ku YAYAT HENDAYANA
SEBAGAI
orang yang lahir dari keluarga Sunda, saya merasa perlu
untuk berusaha menjadi orang Sunda (yang baik). Agar usaha
itu berhasil, saya tentu harus tahu dulu apa dan bagaimana jati
diri Orang Sunda itu. Padahal akhir-akhir ini begitu sering saya
mendengar wacana tentang semakin banyaknya orang-Sunda yang
(telah) kehilangan jati dirinya.
Saya
tidak tahu apakah keseharian saya sekarang ini (masih)
merepresentasikan jati diri orang Sunda itu atau tidak. Saya
tidak dapat mengukurnya karena saya tidak tahu secara tepat
bagaimana juntrungan dari jati diri Orang Sunda itu. Saya butuh
"kriteria" yang terdeskripsikan secara jelas untuk dijadikan
acuan dalam membawakan diri di tengah-tengah pergaulan
beragam etnis. Ataukah memang apa yang disebut sebagai Jati Diri
Orang Sunda itu sesuatu yang abstrak, absurd, sehingga karenanya
tidak dapat dideskripsikan?
Jika
apa yang disebut jati diri itu merupakan hal yang amat penting untuk
menentukan identitas kesundaan, deskripsi mengenai hal itu
merupakan sebuah tuntutan mutlak. Jati diri yang
dideskripsikan dengan jelas dapat dijadikan pegangan oleh mereka (orang
Sunda) yang berniat menjadi orang-Sunda yang baik, yaitu
yang dalam kehidupan kesehariannya menunjukkan jati diri
kesundaan. Bagaimana mungkin kita dapat mengatakan seseorang itu
masih atau sudah kehilangan jati diri kesundaannya kalau kita tidak
tahu pasti apa yang disebut dengan jati diri orang Sunda
itu.
Sebagai
orang Sunda, bagaimana mungkin saya akan mampu memberikan contoh
teladan kepada anak-cucu tentang bagaimana hidup dengan Jati
diri Sunda jika saya sendiri tidak tahu apa dan bagaimana
Jati diri Sunda itu. Padahal bagi anak-cucu, mungkin juga bagi banyak
orang Sunda sekarang, jati diri Ki Sunda yang
terdeskripsikan secara jelas akan sangat bermanfaat untuk
dijadikan pegangan agar tidak mudah dikelompokkan sebagai orang Sunda
yang (telah) kehilangan jati diri.
Mendeskripsikan
apa dan bagaimana ”Jati diri Orang Sunda” terasa menjadi
semakin penting setelah membaca "keberatan" Rachmat Iskandar terhadap
paparan Anis Djatisunda dalam seminar "Napak Lacak Ki Sunda"
di Bogor, Agustus 5 yang lalu (”PR”, Kamis 28/5, hlm. 20).
Untuk mencegah kemungkinan terjadinya papaseaan papada urang
dalam format yang lebih massal "hanya" karena persoalan
jati diri, maka buatlah segera deskripsinya setelah disepakati, agar
dapat dijadikan acuan oleh mereka yang memerlukan.
Tiga aspek pendukung
Agar
dapat dijadikan pedoman hidup, setidak-tidaknya ada tiga aspek yang
perlu didesekripsikan tentang Jati diri Orang Sunda itu,
yaitu aspek pola-pikir, pola-sikap dan pola- tindak.
Indikasi apakah seseorang (Sunda) masih berjati diri Sunda atau tidak
bisa dilihat dari penerapan ketiga aspek tersebut dalam
kehidupan kesehariannya. Deskripsi tentang jati diri yang
meliputi ketiga aspek di atas merupakan alat ukur untuk menilai
apakah seseorang (Sunda) itu masih berjati diri Sunda atau tidak.
Tidak mudah, tentu saja. Tapi paling tidak ada acuan
penilaian sebelum terlalu gampang menjatuhkan vonis bahwa Si
Orang Sunda itu telah kehilangan jati dirinya padahal alat ukurnya
tidak jelas.
Dari
wacana yang berkembang selama ini, yang dimaksud dengan jati diri Ki
Sunda adalah jati diri sebagaimana ditunjukkan oleh
orang-orang Sunda masalampau. Orang Sunda masa kini
dikatakan tidak kehilangan jatiri jika dalam kehidupan kesehariannya
mampu merepresentasikan secara utuh pola hidup (pola-pikir,
pola-sikap, dan pola-tindak) sebagaimana dilakukan oleh
orang Sunda masa lampau. Bagaimana wujud konkret dari
pola-hidup itu, itulah yang perlu dideskripsikan untuk dapat menentukan
rumusan tentang Jati diri Orang Sunda. Masa lampau adalah
orientasi kita ketika membicarakan tentang jati diri. Maka
untuk merumuskan Jati diri Ki Sunda itu diperlukan sumber-sumber acuan
yang juga dari masa lampau, tertulis maupun lisan. Mana
sumber-sumber yang kita anggap sahih untuk dijadikan acuan,
tentu harus kita sepakati terlebih dahulu agar gambaran tentang
jati diri Ki Sunda merupakan gambaran yang dapat diterima semua
pihak dan tidak bersifat kontroversial. Hal ini penting
dilakukan mengingat orang Sunda sekarang ini lebih gemar
saling menyalahkan ketimbang saling mendukung. Seolah-olah apa yang
dilakukan orang lain selalu akan merusak tatanan kesundaan.
Ada
yang mengatakan bahwa Jati diri Orang Sunda tercermin dalam sosok Prabu
Siliwangi. Jika itu benar, dan disepakati bersama, maka
untuk merumuskan Jati diri Orang Sunda kita hanya tinggal
mendeskripsikan secara rinci tentang pola-pikir, pola sikap dan pola
tindak seorang Prabu Siliwangi. Ada pula yang berpendapat
bahwa untuk mengetahui jati diri orang Sunda cukup dengan
melihat pola-hidup masyarakat Kanekes (Baduy) sekarang. Jika itu yang
disepakati, deskripsikanlah dan silakan dijadikan pedoman!
Jati diri masa kini
Sebagian
orang Sunda selalu menempatkan masa lalu sebagai pusat orientasi ketika
harus merumuskan berbagai hal. Tata nilai yang berlaku di
masa lalu senantiasa diposisikan sebagai nilai yang
adiluhung. Padahal tentu ada nilai-nilai yang tidak dapat berlaku
sepanjang jaman, melainkan hanya cocok untuk diterapkan pada kurun
waktu tertentu. Tentu ada nilai-nilai kesundaan masa lalu
yang jika diterapkan di masa kini malah berpengaruh negatif
bagi kemajuan orang Sunda.
Sering
kali kita mengatakan keadiluhungan nilai-nilai kesundaan masa lalu
tanpa mampu menunjukkan secara rinci mana nilai-nilai yang
adiluhung itu. Oleh karena itu marilah kita lakukan
inventarisasi terhadap nilai-nilai kesundaan itu. Lalu, dengan pikiran
jernih kita lakukan pemilahan. Dalam memilah-milah
nilai-nilai itu kita dituntut untuk melakukan reorientasi.
Hendaknya kita tidak berorientasi ke masa lalu melainkan ke masa kini
dan terutama ke masa depan. Melakukan pemilahan nilai-nilai
kesundaan dengan orientasi ke masa kini dan masa depan
diharapkan dapat menghasil;kan mana nilai-nilai kesundaan yang masih
bermanfaat untuk diterapkan di masa kini demi kepentingan masa
depan, dan mana nilai-nilai kesundaan yang justru akan
menjadi penghalang untuk melangkah maju.
Nilai-nilai
yang positif bagi masa kini dan masa depan marilah kita kembangkan dan
kita wariskan kepada anak-cucu kita. Sedangkan nilai-nilai
kesundaan yang berpengaruh negatif bagi pola hidup orang
Sunda masa kini dan masa depan, marilah kita museumkan. Tak perlu
kita jadikan pedoman hidup. Tata-nilai yang negatif seperti itu
tak perlu kita wariskan kepada anak-cucu kita, agar mereka
lebih leluasa melangkah menuju masa depan, tanpa harus
terbelenggu oleh "nilai-nilai adiluhung" masa lalu.
Sejalan
dengan sikap kita dalam memandang nilai-nilai kesundaan, maka dalam
merumuskan Jati diri Orang Sunda, orientasi kita seharusnya
tidaklah melulu ke masa lalu melainkan ke masa depan. Kita
harus mampu menjawab pertanyaan, "bagaimana seharusnya Jati diri
Orang Sunda masa kini dalam menyongsong masa depan".
Merumuskan
Jati diri Orang Sunda masa kini, dengan bercirikan nilai-nilai
kesundaan masa lalu yang positif, adalah menyusun "kriteria
ideal" tentang pola-pikir, pola-sikap dan pola-tindak orang
Sunda yang akan membuatnya tidak saja mampu bertahan hidup (survive)
melainkan juga mampu menjadi pemenang dalam setiap pertarungan.
Hanya dengan begitu orang Sunda mampu berkiprah dalam kehidupan
yang semakin keras serta persaingan yang semakin ketat.
Hanya dengan begitu orang Sunda tidak akan semakin
terpinggirkan, melainkan meningkat perannya dari masa ke masa.***
Penulis, budayawan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar